Masyarakat Surabaya Gelar Bincang Santai Tentang GEMPA

0
93
Suaramandiri .com (Surabaya)   -Masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan gempa, hanya saja selama ini tidak disadari. Sehingga tidak ada upaya untuk menjadi manusia tanggap bencana. Perlu upaya mitigasi bencana, di mana hal ini harus disosialisasikan secara rutin, hingga menjadi sebuah pembiasaan.
Untuk menyikapi fakta tersebut, maka beberapa masyarakat sipil, yang berasal dari  beberapa komunitas (Masyarakat Tangguh Indonesia, Komunitas Sahabat Bumi, Jatim for Indonesia, Mahagana ITS, One91, Laskar Nusantara, Indonesia Bersepeda, dll) berkumpul untuk melaksanakan “diskusi santai tentang gempa”.
Materi tentang gempa dipaparkan dengan jelas oleh Dr. Ir. Amin Widodo, MS di Gedung Geofisika ITS, Minggu (07/10/2018).
“Indonesia banyak gempa sebagai konsekuensi dari tekanan lempeng tektonik sudah bekerja bergerak dan menekan Indonesia sejak jutaan tahun yang lalu,” papar Amin.
Pada batas lempeng ini terjadi akumulasi energi sampai suatu batas tertentu atau dengan selang waktu tertentu, kekuatan lapisan litosfer terlampaui sehingga terjadi pelepasan energi yang dikenal dengan gempa bumi. Pergerakan lempeng tektonik akan terus berlangsung dengan kecepatan tertentu antara 2 – 10 cm per tahun.
Ibarat tumpulan material terdiri dari lapisan beton baja, kayu, plastik, dan lain lain didesak oleh 3 buldoser  yang bergerak dengan kecepatan tetap dari 3 arah. Pergerakan lempeng (bergeraknya buldoser) akan mendorong dan mematahkan lapisan batuan dan bersamaan dengan pecahnya batuan akan diikuti gempa.
Lempeng bumi bergerak terus maka kejadian gempa akan berulang dan terus berulang di masa depan tergantung pada kekuatan runtuh batuan yang ada di daerah yang tertekan lempeng  tersebut.
“Gempa ini bisa terjadi tiap tahun, bisa tiap 10 tahun, bahkan bisa 100 tahun atau lebih. Kalau kita plot lokasi dan distribusi gempa di Indonesia maka hampir seluruh wilayah Indonesia rawan gempa,” imbuhnya.
Sampai saat ini, lanjut Amin, gempa merupakan salah satu fenomena alam yang tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dihindari serta tidak bisa dijinakkan sehingga akibat yang ditimbulkan bisa sangat mengerikan. Mungkin suatu saat perkembangan sains dan teknologi bisa memprediksi kapan dan besarnya magnitude gempa. Sebuah tantangan bagi anak bangsa. Untuk sementara ini gempa dianggap anugerah (given) dan data lokasi gempa dengan skala terbesar dan waktu ulang yang pernah terjadi merupakan data penting untuk berbagai upaya mengurangi risiko bencana gempa.
Dulu sebelum manusia didatangkan ke bumi, gempa ini tidak menimbulkan bencana. Saat sekarang dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menimbulkan persebaran manusia dengan aktivitasnya mendekati kawasan rawan gempa dan atau tsunami sehingga gempa dan tsunami ini berubah menjadi bencana. Sampai saat ini sebagian besar masyarakat masih menganggap bencana sebagai sesuatu musibah yang harus dan layak diterima oleh masyarakat.  Bahkan ada beberapa daerah masih tabu membicarakan bencana takut kuwalat (terjadi sungguhan). Sehingga tidak ada upaya penelitian gempa bahkan  usulan upaya penanganan/pencegahan sebelum tejadi bencana masih dianggap suatu upaya yang mengada-ada. Paradigma takdir atau bahasa hukumnya force majure sudah melekat menjadi bagian budaya masyarakat. Walau  terkena bencana yang sama berulang ulang tetap tidak ada upaya mitigasi, tidak melakukan apa apa, padahal cukup korban yang sudah berjatuhan, kerusakan dan kerugian sudah cukup banyak.
“Kita mempercayai bahwa manusia diciptakan dan didatangkan di muka bumi mempunyai tugas untuk membaca, melihat, mengamati, mengukur, meneliti dan memahami perilaku semua peristiwa alam tersebut. Artinya manusia diwajibkan untuk mempelajari petunjuk Allah agar bisa menyimpulkan dan diharapkan bisa melakukan tindakan yang arif dalam menyikapi peristiwa alam tersebut. Kita harus bersama-sama menyingkirkan pandangan lama kita tentang bencana menuju ke paradigma baru yang lebih ke arah pengurangan risiko,” tegasnya.
UU No 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana memberi amanat pemerintah untuk melakukan kajian dan aksi sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Pemerintah dibantu semua pihak melakukan mitigasi sebelum gempa itu terjadi termasuk melakukan pemberdayaan dan pelatihan dalam menghadapi gempa, baik sebelum, saat dan sesudah. Harapannya semua elemen masyarakat dari anak anak sampai orang tua bahkan masyarakat difabel harus tahu tentang itu.
Berangkat dari pengetahuan tentang gempa, maka diharapkan muncul kesadaran/awareness bahwa persiapan menjadi penting untuk dilakukan. Karena sesungguhnya bencana tidak dapat ditolak, hanya ada satu pilihan untuk meminimalisir kerugian (baik harta maupun nyawa manusia), yaitu : MITIGASI BENCANA.
Di akhir acara, beberapa komunitas yang hadir sepakat untuk melakukan tindak lanjut dari pertemuan hari ini. Satu forum baru saja dibentuk pada hari ini, yakni Surabaya Tangguh, di mana warga Surabaya akan disiapkan untuk “melek” dan paham apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu gempa terjadi. Perwakilan masing-masing komunitas akan merumuskan strategi aksi dalam mewujudkan tujuan tersebut di atas. {pandu}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here