Tahu Istri Selingkuh Setelah Disidang Kasus Narkoba

0
171
Terdakwa Troyke Sulistyo saat jalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Surabaya. Henoch Kurniawan

Suaramandiri .com (surabaya)   – Troyke Sulistyo, terdakwa narkotika merasa bersyukur dengan kasus hukum yang di dihadapinya. Berkat polisi yang menangkapnya, pria 59 tahun ini akhirnya tahu kalau istrinya, Irawati ternyata selingkuh. Irawati ditangkap bersama selingkuhannya, Asmadi Safar setelah polisi mengembangkan kasus Troyke. Pernyataan ini disampaikan Troyke dalam pledoinya.

“Saya bersyukur dengan masalah ini karena istri saya juga dihukum. Saya jadi tahu dia selingkuh setelah ditangkap polisi,” ujar Troyke di hadapan majelis hakim yang diketuai Anne Rusiana dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya.

Majelis hakim akhirnya memvonis Troyke tujuh tahun penjara. Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Selain itu, dia juga diharuskan membayar denda Rp 1 miliar. Bila tidak sanggup membayar maka diganti dengan pidana tiga bulan kurungan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah menawarkan, menjadi perantara, menjual narkotika golongan satu yang beratnya melebihi lima gram,” kata hakim Anne saat membacakan amar putusan.

Pertimbangan yang memberatkan hakim dalam menjatuhkan putusan karena terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika. Terdakwa juga berbelit-belit saat memberikan keterangan dalam persidangan. Sementara pertimbangan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan dan mengakui serta menyesali perbuatannya.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Ali Prakosa. Jaksa Ali sebelumnya menuntut Troyke 10 tahun penjara. Terdakwa juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar subsider tiga bulan kurungan. Menanggapi vonis tersebut, jaksa Ali dan Troyke sama-sama menerimanya.

“Terdakwa menerimanya. Karena sudah sesuai dengan perbuatannya dan terdakwa sudah menyesali perbuatannya,” ujar pengacara Troyke, Viktor Sinaga.

Pengungkapan kasus narkotika yang melibatkan Troyke terungkap pada 10 Oktober 2018 lalu. Saat itu, Troyke yang mendekam di Lapas Lamongan mengendalikan peredaran sabu-sabu dari dalam tahanan. Terdakwa saat itu mendapatkan pesanan sabu-sabu dari koleganya sesama tahanan di Lapas Lamongan bernama Bayu. Sabu-sabu itu dipesan untuk dikirimkan ke Banyuwangi.

Troyke lalu memesan sabu-sabu kepada koleganya, Apin dan Kewel yang menghuni Lapas Tanjung Gusta Medan. Kedua tahanan itu lalu meminta koleganya, Hendra untuk mengirimkan sabu-sabu seberat 100 gram melalui jasa ekspedisi JNE Express. Petugas ekspedisi curiga dengan isinya saat paketan tiba di JNE Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Pihak ekspedisi menghubungi Polrestabes Surabaya untuk menggeledahnya.

Terdakwa Troyke mengendalikan kiriman paket sabu-sabu itu melalui telepon selularnya. Dia menelepon istrinya untuk memastikan kalau paket itu sampai tujuan di Banyuwangi. Troyke juga menyuruh Irawati yang tinggal di Lamongan untuk mengambil paket itu setiba di Banyuwangi. Tapi, tanpa sepengetahuan Troyke, Irawati menghubungi selingkuhannya, Asmadi Safar untuk mengambil sabu-sabu itu di Banyuwangi.

Polisi lalu menangkap Asmadi Safar saat mengambil sabu-sabu di kantor JNE Banyuwangi. Selanjutnya, Irawati juga ditangkap di Lamongan. Troyke yang mendekam di dalam lapas juga diamankan. Di tengah menjalani sidang kasus ini, Troyke yang kini mendekam di Rutan Kelas I-A Surabaya di Medaeng juga terbukti mengendalikan peredaran sabu-sabu dari dalam rutan.

Kasus ini terungkap saat Badan Narkotika Nasional (BNN) Jatim menangkap dua kurir asal Aceh berinisial MUR dan AD setiba di Bandara Juanda Surabaya pada 23 Maret lalu. Dua kurir itu mengaku akan mengantar sabu-sabu itu setelah mendapat pesanan dari seorang berinisial ROES yang mengaku sebagai pengacara. Setelah ditelusuri, ROES mendapat pesanan dari Troyke yang memesan dari dalam rutan. (wan/fud)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here