Spring Bed Merk Imperial Asli Gugat Perdata Produk Imperial Di Sidoarjo

0
207
Advokat Ichwan Anggawirya, S.Sn,SH

Suaramandiri .com  (Surabaya) – Masyarakat konsumen kasur empuk, khususnya spring bed Imperial produk PT.Dynasti Indomegah (DI) di Sidoarjo, Jatim agaknya tak bisa tidur dengan nyaman. Pasalnya, para konsumen merasa bingung dan dengan adanya dugaan penyalahgunaan merk spring bed Imperial asli buatan Bandung, Jabar di bawah PT.Royal Abadi Sejahtera (RAS) dan kemudian PT.RAS menggugat secara perdata PT.DI tersebut.

Akibat perbuatan DI yang berdampak sangat merugikan pihak pemilik hak merk Imperial yang berpusat di Bandung, Jabar terhitung semenjak tahun 2007 hingga 2018, sehingga PT.RAS Bandung menggugat secara perdata kepada PT.DI beralamat di Jln.Sidomulyo, Buduran, Sidoarjo, Jatim melalui Pengadilan Negeri/Niaga (PN) Surabaya dengan nomor perkara gugatannya No.3/Pdt.Sus-HKI/Merek/2019/PN.Niaga Sby, yang terdaftar tanggal 12 Februari 2019.

Sebelum melangkah ke ranah gugatan perdata, pihak RAS sudah mengajukan surat somasi sebanyak dua kali kepada pihak DI masing-masing pada 2007 dan 2018, dilarang menggunakan nama Imperial pada produk spring bed-nya. Namun dua kali somasi tesebut sama sekali tak digubris oleh DI Sidoarjo dan dia terus saja seenaknya memasarkan spring bed merk Imperial yang bukan haknya itu. Karena itu, pihak RAS Bandung sekarang menggugat perdata kepada PT.DI Sidoarjo.

Inti gugatan PT.RAS Perihal Pelanggaran Atas Penggunaan Merek “Imperial” No.IBM000181583, Kelas barang: 20 : Bantal, guling, kasur busa, kasur kapuk, kasur pegas, atas nama Benny Abednego sekaligus selaku penggugat dan menjadi klien dari pada advokat Ichwan Anggawirya,S.Sn,SH Cs, sedang tergugat PT.DI Sidoarjo dikuasakan kepada dua pengacaranya.

Tim kuasa hukum PT.RAS Bandung diketuai oleh advokat Ichwan Anggawirya, S.Sn, SH dengan anggota Heru Setiyono,SH,MH,C.L.A dan Hendry Septiawan,SH,MH dalam persidangan baru-baru ini berhasil menghadirkan dua orang saksi fakta yakni Steven Fransiscus, selaku staf pada RAS dan Ira Fitria Nasution sebagai tenaga SPG kontrakan PT.RAS. Keduanya dalam persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim, Hariyanto,SH,MH bahwa produk spring bed American Pillo yang mendompleng nama merk Imperial dari Sidoarjo terdapat perbedaan yang sangat jauh dengan merk Imperial asli yang dipasarkan RAS selama ini.

Steven Fransiscus lebih detil menjelaskan kepada majelis hakim adanya letak perbedaan Spring Bed Imperial asli dengan barang bukti yang dihadirkan tergugat dalam sidang tersebut. Bedanya, kata Steven, barang bukti spring bed yang diajukan pihak DI selaku tergugat  terdapat tulisan Imperial yang dijahit. “Barang bukti yang diajukan ini kelihatan jahitannya, sedangkan merk Imperial dari Bandung asli dibordir”, ungkap Steven.

Ketika ditanya hakim Dede (anggota majelis hakim) terkait ragam ukurannya, Steven menjelaskan dilihat dari ukuran dan bentuknya saja sudah berbeda, namun ukuran panjang dan lebar Steven tak tahu. “Yang jelas merk Imperial lebih bagus, rasanya juga agak lembut dan

empuk. Barang bukti yang diajukan ini rasanya keras dan kaku”, tuturnya seraya menambahkan merk Imperial bisa dipakai tidur dua orang atau lebih.

Sementara menurut keterangan saksi Ira Fitria Nasution mengatakan, tulisan Imperial pada merk Imperial yang sering dipasarkannya semua menempel pada spring bed. “Produk spring bed merk Imperial setahu saya hanya satu jenis, tidak ada type lain. Cuma satu saja jenis produknya dan kelasnya juga hanya satu”, jelas Ira saat menjawab pertanyaan kuasa hukum tergugat dan majelis hakim.

Dijelaskan Ira, tulisan Imperial diposisikan di depan sebagai tanda untuk kepala saat tidur. “Waktu saya pasarkan merk Imperial, ada konsumen yang merasa bingung karena adanya dua merk tersebut. Tentang harga, lebih mahal spring bed yang saya dipasarkan”, terang Ira. Sementara tergugat berdalih menggunakan type Imperial, bukan memakai merknya.

Advokat Ichwan Anggawirya, SH selaku ketua tim kuasa hukum penggugat mengatakan, perbuatan pihak DI Sidoarjo dianggap pelanggaran merk. “Pihak Royal Abadi Sejahtera menggugat kerugian materil yang dideritanya selama 11 tahun sebesar Rp 38 miliar, akibat perbuatan pelanggaran merek oleh pihak PT.DI Sidoarjo”, tandas advokat senior Ichwan Anggawirya,SH, Konsultan HKI berkantor di INDOTRADEMARK STC Senayan Lt.3 No.169, Jln.Asia Afrika, Jakartatersebut pada media ini usai sidang.

Harganya, terang Ichwan, sangat jauh lebih mahal Spring Bed merk Imperial buatan Bandung (PT.RAS) seharga Rp 9.280.000 per unit. Sedangkan produk Sidoarjo hanya Rp 1.450.000 per unit. Tentu saja tak ada yang meragukan kualitas merk Imperal dan sudah dikenal oleh masyarakat luas, karena itu lebih mahal harganya. (Akrab/Fud)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here