Dirjen KSDAE Janji Gelar Perkara Barang Bukti 441 Satwa Sitaan Dari CV Bintang Terang

0
251
Ir. Wiratno, Dirjen KSDAE (tengah, memakai kemeja putih lengan panjang) saat menemui para pegiat konservasi dan praktisi hukum di ruang kerjanya, Rabu (10/04).

 Suaramandiri .com (Surabaya) – Nasib 441 ekor satwa dilindungi barang bukti sitaan dari CV Bintang Terang segera menemui kepastian. Hal ini terungkap setelah ada audensi, Rabu (10/04), antara Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) bersama para pegiat konservasi dan praktisi hukum, yaitu mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno, Direktur Yayasan Badak Indonesia, Dr. Widodo S. Ramono, mantan Kabag Peraturan Perundang-Undangan dan Informasi Dirjen PHKA Kemenhut, Ir. Sudarmadji dan tak ketinggalan pengamat satwa liar yang dikenal kritis Singky Soewadji.

Oegroseno menyambut baik dan sepakat dengan pendapat Ir. Wiratno, Dirjen KSDAE yang menginginkan proses hukum Kristin selaku Direktur CV Bintang Terang tetap berjalan, namun penyelamatan satwa yang disita dari CV Bintang Terang harus segera dilakukan.

“Rencananya bapak Wiratno (Dirjen KSDAE, red) akan melakukan gelar perkara terkait nasib satwa dan penangkaran CV Bintang Terang. Saya rasa itu benar, karena ini menyangkut makhluk hidup. Semoga satwa yang dijadikan barang bukti itu bisa dikembalikan kepada ibu Kristin agar beliau bisa melanjutkan tugas mulia membantu negara sebagai penangkar satwa dilindungi supaya tidak terancam kepunahan,” tandas mantan perwira tinggi dengan tiga bintang di pundak ini, Rabu (10/04).

Dr. Widodo S. Ramono juga ikut memuji sikap Dirjen KSDAE yang dinilainya bijaksana dalam melihat permasalahan CV Bintang Terang. Orang Indonesia pertama peraih penghargaan internasional Sir Peter Scott Awards tahun 2015 ini menghargai langkah Ir. Wiratno yang berusaha mencari kejelasan dulu dari berbagai sumber supaya bisa membuat keputusan yang tepat.

Pengamatan dan catatan suaramandiri.com, perkara penangkaran satwa ilegal CV Bintang menimbulkan pihak pro dan kontra soal nasib 441 ekor satwa yang dijadikan barang bukti apakah dilepasliarkan ke habitatnya atau tetap ditangkar. Drh Indra Exploitasia, Direktur KKH (Konservasi Keanekaragaman Hayati) ‘bersekutu’ dengan Nandang Prihadi, Kepala BBKSDA Jatim dan para penegak hukum lainnya yakni penyidik Polda Jatim dan Kepala Kejari Jember menginginkan barang bukti 441 ekor satwa tersebut dilepasliarkan ke habitatnya. Bahkan Direktur KKH berusaha intervensi proses persidangan Kristin di Pengadilan Negeri Jember dengan cara mengundang rapat Ketua PN Jember untuk membahas opsi lepasliar satwa itu.

Sedangkan para pakar dan pegiat konservasi yang dimotori Singky Soewadji condong agar ratusan satwa dilindungi yang mayoritas burung paruh bengkok tersebut tetap ditangkarkan di penangkaran CV Bintang Terang. Singky Soewadji meyakini satwa yang disita dari CV Bintang Terang sulit dilepasliarkan ke habitatnya karena sudah kehilangan sifat liarnya. Selain itu pengamat satwa liar yang dikenal kritis ini menilai penangkaran CV Bintang Terang sudah berhasil dan bisa membantu pemerintah dalam bidang konservasi juga pelestarian satwa dilindungi.

“Perlu dicatat, Kristin adalah penangkar burung paruh bengkok Indonesia yang sudah berpengalaman selama 15 tahun dan berhasil. Dia memiliki kemampuan dan teknologi yang mumpuni, jadi seharusnya negara membina Kristin, bukan malah membinasakannya,” tegasnya. (Yudha)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here