Apecsi Siap Temui Siti Nurbaya Bahas Nasib Penangkaran CV Bintang Terang

0
156
Rapat membahas nasib penangkaran satwa dilindungi CV Bintang Terang berlangsung di kantor Yayasan Badak Indonesia di Bogor, Senin (08/04)

Suaramandiri .com (Surabaya) – Penangkaran satwa dilindungi CV Bintang Terang Bangsalsari Jember yang terancam tutup setelah Direkturnya, Lauw Djin Ai alias Kristin divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember  dengan hukuman 1 tahun penjara, denda Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara, dan barang bukti 441 ekor satwa yang disita dirampas negara karena izin tangkarnya mati, tampaknya membuat banyak pihak prihatin.

Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (Apecsi) yang dimotori pengawat satwa liar Singky Soewadji langsung melakukan koordinasi dan rapat, Senin (08/04) bersama pakar konservasi Prof. Alikodra, Direktur Yayasan Badak Indonesia, Dr Widodo S. Ramono, mantan Kabag Peraturan Perundang-Undangan dan Informasi Dirjen PHKA Kemenhut, Ir. Sudarmadji, serta Ahay Sinaga, penangkar satwa dilindungi jenis Aves (burung) menyikapi vonis yang dijatuhkan kepada Kristin tersebut. Singky Soewadji pada awak media ini melalui sambungan suara WhatsApp, Senin (08/04) menuturkan rapat berlangsung di kantor Yayasan Badak Indonesia yang terletak di Kota Bogor.

“Semua pihak yang hadir dalam rapat sepakat jika penangkar satwa dilindungi yang izin tangkarnya mati dan belum diperpanjang tidak layak dipidana. Apalagi untuk perkara Kristin ini, yang bersangkutan sudah menangkar burung paruh bengkok endemik Indonesia dan memiliki izin tangkar serta izin edar selama kurang lebih 15 tahunan. Bahkan Prof Alikodra sampai menganggap perkara Kristin ini sebagai hal yang emergency atau darurat, karena membuat para penangkar satwa dilindungi menjadi ketakutan hanya karena perizinan mati bisa dipidana,” ucap pria asal Surabaya ini.

Singky, begitu panggilan akrabnya, menjelaskan Prof Alikodra berkeinginan mengajak semua peserta rapat bersama-sama menghadap Siti Nurbaya, Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk meminta kebijakan sesuai peraturan yang berlaku agar 441 ekor satwa yang dirampas negara dari CV Bintang Terang bisa dikembalikan kepada Kristin supaya dapat kembali melakukan penangkaran.

“Perlu dicatat, Kristin adalah penangkar burung paruh bengkok endemik Indonesia yang sudah berpengalaman selama 15 tahun dan berhasil. Dia memiliki kemampuan dan teknologi yang mumpuni, jadi seharusnya negara membina Kristin, bukan malah membinasakannya,” tegasnya. (Yudha)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here