Senin, 22 Januari 2018 11:15

Dibalik Matinya Rambo di Lombok

 

Suaramandiri .com (Surabaya)  -Kembali kematian hewan menyentak nurani pecinta satwa di negeri ini. Terbaru adalah matinya Rambo, gajah yang ada di Lombok Elephant Park (LEP).
 
Spontan kejadian tragis Gajah bernama Rambo ini mengundang komentar pengamat satwa dari Surabaya Singky Soewadji
 
Dijelaskannya, tentang pemanfaatan Gajah ini, memang ada dalam Permenhut P.52/2006 pasal 2, pasal 3, dan pasal 7 tentang peragaan satwa liar yang dilindungi oleh undang undang.
 
"Artinya, siapa pun dapat memanfaat Gajah, tapi diatur oleh undang-undang. Berdasarkan Permenhut tsb, pihak swasta atau pemerintah harus mendapatkan surat izin dari Dirjen KSDAE dan harus ada SATDN (SATS DN = Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri) dari BKSDA setempat," papar Singky, Senin (22/01/2018).
 
Dengan demikian, lanjuta mantan atlet berkuda ini, masing-masing Gajah memiliki nomer PIN dan ijin.
 
Disamping itu, Pengelola harus menyediakan SOP perawatan dan pengelolaan Gajah.
 
Harus ada pawang yang terlatih, harus menyediakan dokter hewan satwa liar (tidak bisa asal comot dokter hewan seperti yang terjadi di LRP).
 
Melakukan general check up sekali 3 bulan dengan pemberian obat cacing, timbang badan, hal ini tidak pernah dilakukan di LEP.
 
Tersedia pakan hijau sebanyak 10 persen berat badan dan pakan tambahan dan vitamin, dan juga pengelola harus mampu menyiapkan kebutuhan air bersih 100 -150 liter per hari.
 
"Kematian Rambo ini diperkirakan Gajah kurang makan dan kurang perawatan, karena ini juga dapat dilihat dari Gajah lain Bayu, Melati dan Cindy disana, badannya kurus dan kulitnya kering," jelas Singky.
 
Dan Rambo berasal dari Way Kambas, diperkirakan umur Gajah Rambo berkisar 30-35 tahun. 
 
Menurut catatan rekan di Way Kambas, gajah tersebut kurang   perawatan dan cacingan, kaki bengkak akibat jatuh.
 
Seharusnya performa Gajah tersebut harus di pantau sekali 3 bulan dan biaya di tanggung oleh pengelola.
 
"Berdasarkan laporan dari dokter hewan di Way Kambas, mereka tidak pernah dilibatkan dalan pemeriksaan kesehatan dan rencana pengelolaan," papar Singky.
 
Dengan demikian, Singky meminta keluarnya ijin Lembaga Konservasi (LK) untuk LEP perlu diusut, demikian pula terbitnya SATS-DN untuk Gajah tsb.
 
"Terutama keberadaan Gajah Cindy yang keberadaan asalnya dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) masih berstatus hukum di titipkan dari ex Holiday Circus yang ijinnya mati," imbuhnya.
 
Asal usul Cindy sendiri dari Malaysia, bukan Gajah Indonesia, kemudian di KBS Cindy termasuk 420 satwa yang di jarah.
 
Cindy ditempatkan di Mirah Fantacia Banyuwangi bersama sejumlah satwa ex KBS, namun entah bagaimana prosedurnya bisa hijrah ke LEP.
 
"Ijin LK LEP harus dicabut dan oknum pejabat yang bermain harus ditindak dan diproses hukum," pungkas Singky.  (pandu/fud) 
Read 366 times

Glovy Cat Care

 

 

Pengunjung

4261398
Hari ini
Kemarin
Bulan ini
Total
428
3636
90735
4261398

Your IP: 54.80.115.140
Server Time: 2018-04-26 03:10:18