Kamis, 19 Oktober 2017 12:12

Aturan “Stack” Kontainer Pelindo III, Antara Penataan & “High Cost”

Suara Mandiri.com (Surabaya) – Sebagai penyelenggara kegiatan pelabuhan khususnya dalam rangka penyediaan dermaga dan area sekitarnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III berwenang untuk membuat aturan terkait penumpukan muatan (stacking) menjelang kapal diberangkatkan. Begitulah yang dikemukakan Deputy II General Manager PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Bambang Wiyadi, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Bahwa perusahaan pelayaran (operator kapal) wajib lebih dulu menyiapkan muatan minimal sebesar 75 persen, apabila hendak mengikuti proses meeting dalam rangka memperoleh tempat sandar kapal. “Aturan ini berdasarkan Surat Keputusan Direksi yang tujuannya untuk menata muatan agar kapal tetap seimbang dalam perjalanannya. Dan aturan ini berlaku untuk seluruh pelabuhan di wilayah Pelindo III,” demikian antara lain Bambang, yang membidangi Pelayanan Dermaga dan Kapal ini.

Di pelabuhan Tanjung Perak, lanjutnya, hampir semua dermaga sudah menerapkan aturan tersebut sejak lama. Artinya, kontainer yang hendak dimuat telah disiapkan seluruhnya di lapangan penumpukan maupun gudang. “Misalnya di Jamrud yang sudah berjalan seratus persen. Tetapi kalau di Berlian memang belum bisa karena fasilitasnya masih kurang mendukung. Walaupun demikian, pelayaran yang beroperasi di sana sudah konsisten melaksanakannya secara penuh,” ungkapnya sembari menyebut sebuah perusahaan pelayaran.

Lebih jauh diuraikan, terbitnya aturan sebagai solusi dilarangnya kegiatan truck losing atau memindahkan petikemas langsung ke atas kapal di “pelabuhan dalam” –istilah untuk dermaga Jamrud, Berlian dan Mirah.

Penataan muatan yang sekaligus efisiensi pemanfaatan lahan terminal memang menjadi tujuan utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini. Namun demikian, apabila aturan tersebut menyebabkan biaya bertambah besar tentu banyak pihak yang tidak sepaham. Pasalnya, untuk melaksanakan aturan stacking itu sendiri ada 3 kegiatan, yakni: menurunkan petikemas dari angkutan darat/ truk ke lapangan penumpukan, penggunaan area lapangan penumpukan dan menaikkan kontainer ke atas kapal.

Ketiga aktivitas tersebut hanya dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas Pelindo III, yakni pemakaian crane untuk menurunkan dan menaikkan petikemas (Lift On Lift Off) serta biaya sewa lapangan penumpukan. Alhasil, komponen biaya ini menyebabkan timbulnya high cost (biaya tinggi) di lingkungan PT Pelindo III, yang dapat mengancam kelancaran logistik ke kawasan Indonesia Timur, serta disparitas harga antara Jawa dan Luar Jawa. (iwan/saragih)

 

Read 265 times Last modified on Kamis, 19 Oktober 2017 12:16

Glovy Cat Care

 

 

Pengunjung

3822363
Hari ini
Kemarin
Bulan ini
Total
473
1532
46830
3822363

Your IP: 54.196.47.128
Server Time: 2017-11-25 06:59:04