Jumat, 18 Agustus 2017 06:53

Ka OP Tanjung Perak: “Bongkar Hewan Tidak Boleh Digantung”

Suara Mandiri.com (Surabaya)Pernyataan tegas ini dikemukakan Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan (Ka OP) Utama Tanjung Perak Ir Mauritz H.M. Sibarani DESS, ME di kantornya, Kamis (17/8), terkait maraknya cara menurunkan/ membongkar hewan dari kapal ke bak truk dengan menggantung atau istilahnya sling tanduk. “Kalau pakai cara itu hewan bisa stres. Lagi pula untuk menurunkan muatan hewan itu kan banyak caranya. Misalnya dengan menggunakan kontainer, jembatan atau jaring/ jala,” ujarnya didampingi Kepala Bidang Lalu-lintas Laut, Operasi dan Usaha Kepelabuhanan (Kabid Lala) Drs Hery Suryono MM serta Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Agus Winartomo.

Hampir 4 bulan ini Pelabuhan Tanjung Perak khususnya Kalimas dan Dermaga Jamrud menjadi terminal akhir perjalanan hewan dari sentra budidaya ternak di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelum dikirim menggunakan moda transportasi darat ke berbagai kota di Pulau Jawa.

Hewan-hewan tersebut diangkut kapal-kapal kayu (PLM/ Perahu Layar Motor) yang berkapasitas antara 200 hingga 300-an ekor. Sebagian besar jenis ternak besar seperti sapi dan kerbau. Namun kadang-kadang terdapat pula puluhan ekor kuda diantaranya. Selain dengan PLM, hewan juga diangkut kapal besi yang daya angkutnya dapat mencapai 600-an ekor.

Mauritz yang sebelumnya (25/6/2015–4/11/2015) pernah menduduki jabatan sama menengarai, cara membongkar muatan hewan dengan sling tanduk ini lantaran sang pemilik barang hanya berpikir efisiensi tanpa memperhatikan aspek lain. “Ini karena pemiliknya itu buru-buru ingin menurunkan muatannya.  Karena itu ke depan sudah tidak boleh lagi cara begitu,” tandasnya usai menghadiri Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Prapat Kurung.

Lebih jauh dipaparkan Kabid Lala, bahwa pelanggaran bongkar muatan hewan dengan cara sling tanduk terjadi karena terlalu menuruti kemauan pemilik hewan di pelabuhan asal. Dan petugas lapangan OP Tanjung Perak tidak mungkin ditempatkan 24 jam hanya untuk mengawasinya. “Pengawasan yang terutama adalah dari laporan. Berdasarkan laporan yang masuk itulah kita turun untuk melakukan pengawasan. Apabila ditemui cara itu langsung kita stop kegiatannya,” jelas Hery Suryono yang sebelumnya pernah bertugas di Batam ini.

Perlu diketahui, cara sling tanduk adalah menggantung 3-4 ekor sapi/ kerbau pada crane kapal. Kalau pakai jaring atau jala yang juga digantung pada crane, posisi hewan harus berdiri dengan keempat kaki menerobos sela-sela jala. Untuk cara ini paling banyak 2 ekor yang bisa diturunkan per sekali gerakan crane. Sementara dengan menggunakan jembatan, posisi sandar kapal dengan bak truk sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jembatan yang menghubungkan bagian kapal dengan bak truk tidak boleh terlalu curam. Sedang cara kontainer, di PLM sangat tidak mungkin karena ruang palka terlalu sempit untuk menempatkannya.

Selain masalah bongkar muat hewan, dialog antara jajaran OP dengan wartawan ini juga mengkomunikasikan soal konsesi lahan pelabuhan Tanjung Perak yang belakangan kerap menimbulkan masalah. Serta berbagai hal terkait Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Kantor OP Utama Tanjung Perak. Terakhir adalah perkara pidana akibat pemberian izin kepada sebuah perusahaan di dalam area Terminal Petikemas Surabaya (TPS), yang tujuannya untuk menarik pungutan pada importir hortikultura.

Menurut Humas OP Herni Wahjuti SH MM yang juga turut mendampingi jajaran pimpinan Kantor OP, event semacam ini sangat bermanfaat dalam rangka menyamakan persepsi antara peraturan dengan realitas di lapangan terkait dengan kebijakan yang hendak diberlakukan. “Untuk ke depan, kami juga akan membahas agenda lain yang cukup penting,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini.(iwan/mahfud)

 

Read 458 times

Glovy Cat Care

 

 

Pengunjung

3855024
Hari ini
Kemarin
Bulan ini
Total
1368
1697
21826
3855024

Your IP: 54.227.126.69
Server Time: 2017-12-11 14:37:40