Sabtu, 15 Juli 2017 07:21

Kondisi Gila, Tak Menghentikan Hukuman Mati Sugik

Rate this item
(0 votes)
Suaramandiri .com (surabaya)    - Di luar perkara narkotika, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menanti waktu untuk mengeksekusi dua terpidana mati dalam perkara pembunuhan yang terjadi puluhan tahun silam. Satu terpidana masih mengajukan Peninjauan Kembali (PK), satu lagi tinggal menunggu jadwal pelaksanaan eksekusi.
 
Dua terpidana mati itu ialah Aris Setiawan (49 tahun), terpidana mati dalam perkara pembunuhan korban tiga orang satu keluarga di Kecamatan Tandes, Surabaya, pada 1997 silam. Pada Kamis, 13 Juli 2017, dia mengajukan PK ke Mahkamah Agung setelah 20 tahun mendekam di dalam penjara dalam bayang-bayang eksekusi mati.
 
Satu terpidana mati lainnya ialah Sugianto alias Sugik. Tindakannya pada tahun 1995 silam membuat satu keluarga, suami-istri dan dua anaknya yang tinggal di Jalan Jojoran, Surabaya, Jawa Timur, meregang nyawa. Hingga PK di Mahkamah Agung, ia tetap diputus hukuman mati. Grasinya juga ditolak Presiden Joko Widodo 2016 lalu.
 
Kepala Kejati Jatim, Maruli Hutagalung, menerima laporan soal PK yang diajukan terpidana mati Aris Setiawan. "Saya minta Pidana Umum mengkaji PK itu," katanya di kantor Kejati Jatim, Jumat (14/7/2017). Soal Sugik dia meminta awak media bertanya kepada Asisten Pidana Umum, Tjahjo Aditomo.
 
Tjahjo memaparkan, eksekusi Aris Setiawan menunggu hingga semua upaya hukum yang dilakukannya dilalui. Setelah PK, Aris masih diberi waktu untuk mengajukan permohonan ampunan atau grasi kepada Presiden. "Semua terpidana mati diberi waktu melakukan semua upaya yang disediakan oleh aturan perundang-undangan," ujarnya.
 
Adapun untuk terpidana mati Sugik, terang Tjahjo, semua upaya hukum telah dilalui. Upaya terakhir, yakni grasi, ditolak oleh Presiden Jokowi pada 2016 lalu. Sugik tetap harus menjalani eksekusi mati. Tetapi, jelas Tjahjo, belakangan penyakit kejiwaan Sugik kambuh-kambuhan. 
 
"Kami lakukan pemeriksaan kejiwaan berkala kepada yang bersangkutan," kata Tjahjo. Hal yang perlu ditegaskan, lanjut dia, sakit jiwa yang dialami terpidana mati tidak menghalangi eksekusi. "Eksekusi sudah diajukan ke Kejagung. Tinggal menunggu perintah pelaksanaan."
 
Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Surabaya, Didik Adyotomo, menerangkan bahwa tanggungjawab atau akibat hukum tercerabut atas seseorang apabila dia terbukti mengalami sakit jiwa saat melakukan tindakan pidana. "Kalau sakit jiwa karena menjalani hukuman, itu tidak menghalangi eksekusi," katanya. (wan/fud)

 

 

 

Read 116 times Last modified on Sabtu, 15 Juli 2017 07:24

Glovy Cat Care

 

 

Pengunjung

3508330
Hari ini
Kemarin
Bulan ini
Total
3567
10880
192577
3508330

Your IP: 54.158.248.167
Server Time: 2017-09-22 09:31:20