Sabtu, 29 April 2017 20:30

Water.Org: Isu Seksi Tentang Air dari Mulai Sanitasi Buruk Hingga Stunting. Apa itu?

Rate this item
(0 votes)

Suaramandiri .com (Malang)   – Mengangkat isu lingkungan memang tidak semudah mengangkat isu lain, agar masyarakat mau sejenak memalingkan perhatiannya tentang masalah ini. Ada kecenderungan apatis, bukan karena tingkat pendidikan yang kurang atau sosial ekonomi, tapi lebih banyak karena suatu tradisi lama atau dampak yang tidak secara langsung cepat dirasakan suatu kelompok masyarakat. Namun bahaya kerusakan akan seperti bom nuklir yang meledak dengan dampak yang mengerikan dalam tempo lama dan tidak kecil kerugiannya.

Salah satu sumber alam yang menguasai hajt hidup orang banyak antara lain adalah air. Karena 80 persen dalam tubuh kita adalah air, air menjadi kebutuhan penting setelah udara agar kita tetap dapat hidup. Water.Org salah satu Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang didirikan Matt Damon artis terkenal dari Amerika, mengangkat isu lingkungan berfokus di sumber alam air. Untuk program kampanyenya menyosialisasikan akan pentingnya air sehat, mengadakan diskusi bersama media dengan tema “Peran Media Untuk Akses Air Bersih Layak Minum dan Sanitasi yang Aman di Indonesia” di Malang, 25 April 2017 yang diikuti oleh 30 orang jurnalis. Sebagai narasumber adalah Edy Basuki, SKM., Msi. dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Yuni dari penyuluh lapangan dari mengenai sanitasi di kabupaten Leces, Situbondo, Prabowo dari PDAM Jepara, Ratih Harjono mantan wartawati Harian Kompas, Haris dari AJI Malang dan Gusril Bahar dari Water.Org.

Water.org merupakan organisasi internasional nonprofit yang didirikan oleh Gary White dan Matt Damon pada 1990, atas keprihatinan mereka akan keberadaan air bersih dan tidak semua orang dapat mengakses air bersih. Organisasi ini merupakan pioner untuk inovasi, sustainable solutions untuk air dan sanitasi buruk secara global, memberikan harapan kehidupan lebih baik untuk anak-anak perempuan dan kesehatan anak-anak.

“Kami mengharapkan setiap orang di dunia ini memiliki akses air bersih yang aman dan sanitasi yang bermartabat,” demikian disampaikan oleh Gusril Bahar mewakili Water.Org.

Banyak fakta menarik yang disampaikan dalam seminar yang intinya mengajak para jurnalis menjadi salah satu alat edukasi kepada masyarakat. Mulai masalah sanitasi yang masih sangat buruk di Indonesia hingga dampak yang mengerikan dari kurangnya air sehat untuk konsumsi masyarakat.

Masalah sanitasi telah menjadi salah satu program dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang khusus mendapat perhatian, dengan Gold Goal pada 2030 dengan menjamin ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan bagi semua orang.

Seperti yang disampaikan oleh Yuni, petugas kesehatan yang selalu berkeliling dari satu desa ke desa lain atau dari dusun satu ke dusun lain, untuk memberikan pemicuan kepada masyarakat akan pentingnya masalah sanitasi atau menggunakan jamban yang sehat. Dikatakannya tak mudah bagi dirinya untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar beralih dari BAB sembarangan ke membuat jamban bersih dan sehat. Banyak sekali kendalanya antara lain kebiasaan turun temurun, sanitasi memerlukan biaya yang tidak sedikit, sanitasi dirasa kurang efektif dan tidak berdampak secara langsung, kurangnya kordinasi lintas sektor serta kurangnya sosialisasi kepada masyarakat.

Dari 10 desa yang dilakukan sosialisasi hanya sekitar 3 desa yang mau mengubah cara BAB nya ke jamban yang benar. Dengan berbagai alasan. Hal ini tidak dapat dipaksakan karena disadari untuk hal ini diperlukan kesadaran masyarakat sendiri, yang kemudian diikuti dengan tindakan membuat jamban yang benar.

Mengapa membuat jamban yang benar menjadi begitu penting sehubungan dengan keberadaan air bersih. Perlu diketahui bahwa jamban turut serta dalam menjaga kebersihan sumber air. Jamban yang dibuat dengan benar, air resapannya tidak akan mencemari sumber air. BAB sembarangan sebagian besar mencemari air yang air tersebut menjadi bahan baku air minum. Jika kotoran manusia dibuang ke sungai maka bakteri yang terkandung di dalamnya akan mencemari sumber air. Hal ini membutuhkan banyak tindakan untuk kembali kita mendapatkan air bersih dan sehat.

Berdasarkan data UN Water.Org yang dipaparkan oleh Ratih Harjono yang saat ini bergiat disana, adalah fakta pertama, penggunaan air tumbuh dua kali lebih cepat dari pertumbuhan penduduk dunia dalam abad terakhir. Pada 2025 akan ada 1,8 milyar orang hidup dalam kekurangan air absolute dan dua pertiga penduduk dunia hidup dalam kondisi stress.

 

Fakta kedua menurut UN Water pada 2050, jumlah penduduk yang akan bermukim di kota 2,3 milyar. Tuntutan kebutuhan air bersih akan terus meningkat, sementara itu 2/3 dari penduduk dunia sekarang mengalami kekurangan air satu bulan tiap tahun. Hal ini mengakibatkan, dengan meningkatnya kebutuhan, volume air limbah juga meningkat dan secara keseluruhan beban polusi turut  meningkat diseluruh dunia.

Akibat sulitnya akses air bersih dan dampak sanitasi yang buruk adalah timbulnya penyakit antara lain diare, kolera, hepatitis, polio dan lebih mengerikan adalah timbulnya Stunting (Pertumbuhan Kerdil) di Indonesia bagi anak berusia lima tahun adalah 37.2% (Bank Dunia 2015). Stunting mempengaruhi Pertumbuhan otak dan Kemampuan berpikir.

Indonesia kaya akan air tawar dan mempunyai akses pada 21% dari semua air tawar di kawasan Asia Pasifik, namun memiliki permasalahan yakni,

  • Tantangan yang dihadapi pada “water security” berhubungan dengan lajunya pembangunan, infrastruktur urban yang masih dibawah standard dan terpakainya infrastruktur yang melampaui batasnya. Perkembangan ekonomi tidak diiringi oleh pembangunan infrastruktur and kapasitas institusi

  • Sehingga satu dari orang Indonesia tidak mempunyai akses pada air bersih dan lebih dari 70% sumber air yang menjadi andalan penduduk Indonesia terkontaminasi   (fud/amel)

Read 290 times

Glovy Cat Care

 

 

Pengunjung

3244810
Hari ini
Kemarin
Bulan ini
Total
2222
10353
176327
3244810

Your IP: 54.81.231.226
Server Time: 2017-08-23 05:31:28